LEGENDA PAULINO ALCANTARA

Jauh sebelum sepak boal menjadi industri komersil, ada seorang pemain Asia yang pertama kali merumput di FC Barcelona dan Eropa. Ia adalah Paulino Alcantara yang lahir di Iloilo, Filipina. Lahir dari ayah yang merupakan prajurit Spanyol dan ibu asli Filipina, Pau;ino masih berumur tiga tahun ketiak hijrah ke Kota Barcelona bersamaan dengan Joan Gamper mendirikan FC Barcelona. Kariernya di FC Barcelona kala itu bermula ketika founding father Joan Gamper melihat bakat Paulino yang sedang bermain sepak bola bagi klub junior, Galeno FC.

Pada tanggal 25 Januari 1912, Paulino memulai debutnya di tim utama ketika FC Barcelona bertanding melawan klub Catala SC di ajang Copa Catalunya. Dalam pertandingan yang berkesudahan dengan skor 9-0 tersebut, Paulino mencatatkan diri sebagai pemain termuda yang pernah bermain di tim utama, pencetak gol di pertandingan debut, pecetak hattrick di pertandingan debut, dan pencetak hattrick termuda di tim utama sepanjang sejarah FC Barcelona.

Pemain yang lahir pada tanggal 7 Oktober 1896 ini bermain di FC Barcelona selama dua periode, yaitu tahun 1912-1916 dan tahun 1918-1927. Paulino memiliki ciri khas, berupa sapu tangan yang bergelantungan di ceana pendeknya. Itu menjadi ikon pertama sepanjang sejarah FC Barcelona. Paulino juga merupakan salah satu contoh nyata bahwa peepak bola bisa tetap melanjutkan pendidikan yang dijalaninya. Dengan ilmu kedoteran yang dipelajarinya, Paulino bisa tetap tampil bugar dan sehat.

Pada tahun 1916, keluarga Alcantara hijrah kembali ke Filipina dan Paulino pun turut serta. Di tanah kelahirannya, Paulino bermain bagi klub bernama Bohemian of Manila Soprting Club. Paulino membantu Bohemian meraih juara di Kejuaraan Filipina sebanyak dua kali tahun 1917 dan 1918. Oleh karen aitu, Paulino masuk seleksi Tim Nasional Filipina (yang kala itu masih menjadi negara jajahan Amerika Serikat) untuk ajang Far East Games (sekarang bernama Asian Games) di Tokyo, Jepang. Tim Nasional Filipina sukses menghancurkan tim tuan rumah dengan skor 15-2. Hingga saat ini pertandingan tersebut masih tercatat sebagai kemenangan terbesar sepanjang sejarah Tim Nasional Filipina. Di ajang Far East Games, Paulino juga menjadi andalanFilipina di cabang tenis meja.

Ketika Paulino mudik, FC Barcelona di Eropa mengalami defisit gelar. Pihak FC Barcelona meminta orang tua Paulino untuk memperbolehkan anaknya kembali ke FC Barcelona. Akhirnya Paulino kembali ke FC Barcelona pada tahun 1917 dengan cara unik. Awalnya ia menolak minum obat malaria ketika dirinya sakit. Ia baru akan meminum obat tersebut apabila diperbolehkan kembali ke Spanyol oleh orang tuanya. Ketika Paulino kembali ke FC Barcelona, mantan rekan satu  tim nya dahulu, Jack Greenwell, memegang posisi sebagai pelatih dan memasang Paulino di barisan belakang bukan depan. Alhasul pera anggota klub FC Barcelona pun protes dan meminta agar Paulino ditempatkan di lini depan.

Pada tahun 1920, Paulino ditawari mauk Tim Nasional Spanyol untuk ajang Olimpiade, tetapi Paulino menolak karena harus menyelesaikan studi kedokterannya. Bisa dibayangkan kesibukan Paulino jika dia harus membagi konsentrasi antara pendidikan yang memang prioritasnya, FC Barcelona yang menjadi klub favoritnya, serta Tim Nasional Spanyol. Meski begitu, Paulino pernah bermain sebanyak lima pertandingan bagi Tim Nasional Spanyol. Kala iu belum ada tauran FIFA terkait tim nasional, jadi Paulino bisa dengan bebas turut serta bermain di Tim Nasional Spanyol, Tim Nasional Filipina, dan Tim Nasional Katalunya.

Pada tahun 1927, Paulino pensiun menjadi pemain agar bisa konsentrasi mengejar kariernya sebagai dokter. Sepanjang kariernya, Paulino telah menyumbang 2 gelar Pynerees Cup, 5 gelar Copa del Generalisimo/ Copa del Rey, dan 10 gelar Campional de Catalunya. Selain itu, Paulino menjadi top scorer sepanjang masa bagi FC Barcelona dengan perolehan 369 gol di 357 pertandingan resmi dan persahabatan FC Barcelona. Artinya, Paulino membuat 1,03 gol/pertandingan, halitu sunggung sesuatu yang menakjubkan.

Tahun 1951, Paulino menjadi pelatih Tim Nasional Spanyol untuk tiga pertandingan melawan Swiss, Belgia, dan Swedia. Karier kepelatihan Paulino hanya menghasilkan satu kemenangan dan dua hasil imbng. Ia tidak pernah melatih kembali. Tahun1964, tepatnya 3 Februari, Paulino meninggal dunia di Kota Barcelona dan dimakamkan di pekuburan Les Corts, yang bersebelahan dengan Camp Nou sekarang. Tahun 2007 lalu, FIFA menganugerahinya sebagai Pemain Terbaik Asia Sepanjang Masa daaan disebut-sebut sebagai Lionel Messi dari abad ke-19.